Wednesday, May 19, 2010

Catatan Pesisir 4

Pamboang, Day 77 (11 April 2010)

Arti sekolah untuk mereka

Saat sekolah saya ingat betul, rasa jenuh bukan kepalang dengan sekolah. Saya selalu berpikir kapan sekolah akan berakhir. Betapa melelahkan setiap hari bergelut dengan sabun cuci dan 3 seragam sekolah. Mencucinya supaya besok bisa dipakai lagi.

Dan mandi pagi, oh Tuhan. Rasanya seperti siksaan tiada akhir. Sekolah yang dituju juga tidak menjanjikan hal menyenangkan, seperti ketakjuban akan pengetahuan baru. Menjemukan.

Sekolah itu sendiri saja sudah sangat menyebalkan. Apalagi kalau guru-gurunya masuk ke kelas tanpa ekspresi. Sepertinya sebelum berbicara, jauh sebelum mereka melangkah masuk ke kelas, dalam hati mereka bergumam, oh tuhan, kenapa saya harus berhadapan dengan anak-anak bodoh ini lagi. Dan kami memulai pelajaran dengan doa, semoga hari ini cepat selesai. Lonceng sekolah selalu menjadi yang paling dirindukan.

Hal yang paling saya hindari adalah menjadi guru. Tapi saat ini saya berada sedikit mirip dengan posisi guru. Pendamping guru. Bukan guru pendamping. Setiap ada waktu saya mencoba mendekati mereka secara persuasif. Apa harapan mereka dari sekolah? Muridnya hanya 20 orang. Itupun kadang beberapa diantara mereka lebih senang dihukum, lalu selama 7 hari berikutnya, menghilang. Oh God. Mereka lebih nyata membenci sekolah daripada aku.

Saya mencoba tidak memberikan hukuman. Tapi akibatnya tugas2 banyak yang tidak diselesaikan. Besok saya akan meminta mereka memperlihatkan kartu ingatnya. Yang membawa akan mendapat hadiah. Mungkin seperti wafelatos atau yang mirip itulah.
Saya tidak boleh menyerah. Setidaknya bukan sekarang.

Sepertinya saya kurang tegas. Mungkin salah metode. Mungkin siswa ini lebih senang dikerasi. Harusy saya bisa menduga itu waktu pertama saya tanyakan. Hukuman apa yang mereka inginkan. Jawabannya, dijemur, kengkreng, push up, di tendang. Waduhhh....
Masalahnya saya tidak mendapat sambutan baik dari guru bahasa inggrisnya. Jangankan membicarakan pengembangan pendidikan, membicarakan program saya saja dia enggan. Tepatnya begini, saya mengajaknya berbicara, dan dia tidak menoleh. Not even a glance.

rumah untuk mama

Pamboang, Day 41(6 Maret 2010)

Rumah untuk mama.

Rasanya menyakitkan memikirkan seorang perempuan di ujung usianya bisa sangat sebatang kara. Tanpa rumah. Tetap bekerja keras ketika tulangnya sudah mulai aus dikikis osteoporosis. Perempuan itu mamaku. Setelah bercerai, ia terusir dari rumah. Menumpang semalam di kos putrinya lalu keesokan harinya pergi mencari rumah kos sendiri. Seharusnya ia bisa tinggal di sana untuk sementara, tapi mungkin putrinya malu, menunjukkan pada dunia bahwa ibunya terusir dan menumpang di tempatnya.
Perempuan itu lalu pergi di tengah hujan bersama anak bungsunya. Lalu menemukan sebuah rumah kos di bawah rumah panggung. Sekarang keadaannya sudah jauh lebih baik. Tapi perempuan itu masih belum menemukan rumahnya sendiri. Sebuah rumah yang banjir saat hujan dan panas bak bara di siang bolong adalah rezeki yang harus disyukurinya sekarang.

Spring bed ukuran single yang dibelikan adik laki-lakinya sekarang harus disangga sekitar 5-6 batu bata, karena banjir bisa datang ketika ia tidur karena kelelahan setelah mengais rezeki seharian. Ia tinggal sendiri. Sesekali 4 anaknya datang bergantian. Tapi sejatinya, ia sendiri.

Mulai saat ini, saya punya sebuah cita-cita. Bukan menjadi dokter seperti yang selalu saya katakan sejak kecil. Itu bukan cita-citaku. Itu yang saya dengar dikatakan anak-anak lain saat ditanya. Bukan polwan, bukan superman. Cita-citaku adalah sebuah rumah. Yang aman dari hujan, dari banjir dan panas. Rumah itu untuk mamaku.

Bukan!
cita-citaku bukan menjadi arsitektur. Saya terlalu bodoh dan terlalu tua untu memulainya sekarang. Saya rela menukar diriku dengan sebuah rumah sederhana. Supaya mamaku bisa pindah ke sana. Aman. Kalau bisa ditambah satu pembantu, untuk mencucikan bajunya atau memasakkan makan malamnya. Tapi siapa yang akan menikahi seorang perempuan hampir tiga puluh yang sama sekali tidak menarik sepertiku. Mungkin menarik. Tapi tidak sebanyak itu sehingga bisa membuat seseorang rela membuatkan sebuah rumah yang bebas banjir dan cukup sejuk.

Tuhan yang selalu baik. Saya sudah memutuskan cita-citaku. Sebuah rumah. Kalau mengharapkan seorang pria baik untuk memberikannya dalam bentuk sebuah mahar, terdengar musykil, maka berilah saya kemampuan untuk membelinya sendiri. Saya tau saya tidak punya banyak kemampuan. Saya pun putus asa. Tapi engkau maha besar. God is Great. Hanya kau yang selalu memungkin semua jalan untukku.

Catatan Pesisir 3

Day 2
(26 january 2010)

Gara-gara International Relation
Mulai malam ini saya resmi sendiri menangani semua masalah dan hambatan program. Pimpinan dan sekertaris yayasan sudah berangkat sore tadi, bersama sopir lucu dari NTT. Mulai besok pagi, pekerjaan sesungguhnya dimulai. Namun saya belum bisa memutuskan akan memulai dari mana. Apakah langsung membuat circle discussion, atau menyusun agenda dengan kepala kurikulum, atau berkeliling ke kelas. Mungkin pilihan terakhir yang harus saya pilih, sebagaimana pembicaraan sebelumnya.

Sore tadi setelah pak Hikmat dan Mba Yundrie pergi, saya langsung disergap sepi. Tak lama berselang, pak Darfi kepala sekolah SMK 3 Majene muncul. Kami mengobrol beberapa lama. Ada beberapa harapan yang ia sampaikan. Mengetahui saya dari Ilmu Hubungan Internasional, ia meminta saya mengupayakan hubungan kerja sama dengan universitas di luar negeri, khususnya yang berkaitan dengan ilmu kelautan, dan perikanan. Bentuknya, seperti sister school atau pertukaran pelajar. Targetnya adalah Australia, Jepang atau negara mana saja.
Entahlah, apakah DBE dari USAID bisa membantu, saya bahkan tidak tahu apakah ada hubungannya dengan exchange student atau tidak. Saya harus berkonsultasi dulu dengan Ina Rahlina. Saya juga harus bertemu dengan Pak Matsui Kazuhisa yang mungkin bisa memberikan saran mengenai ini di Jepang.
Di lain waktu, seorang guru di SMK 3 Kelautan mengusulkan saya untuk memberikan kursus bahasa Jepang. Menurutnya, karena saya punya background hubungan internasional, maka pastilah menguasai banyak bahasa selain bahasa Inggris. Huff... sesat pikir kita sama pak. Saya pun berpikir sepert itu ketika pertama kali harus memilih jurusan yang akan saya perjuangkan di UMPTN. Saya jatuh cinta pada bahasa. Harapan yang muncul ketika membaca nama jurusan itu. Ada banyak bahasa yang akan saya pelajari, minimal bahasa Jepang dan perancis. Sehingga saya bisa kenyang dengan bahasa. Soal kegagalan saya menguasai bahasa Arab, itu lain hal. Semata karena ketidakmampuan, baik ketidak mampuan saya menangkap, juga ketidak mampuan para ustaz ustazah memberikan metode berbahasa Arab.
Berbicara soal bahasa, menurut survey yang saya lupa sumbernya, bahasa yang paling banyak digunakan di seluruh dunia adalah bahasa spanyol.

itu hanya sekedar intemezo, yang jelas, saya harus ke sekolah, esok pagi. Dan mempersiapkan diri untuk berbahasa inggris sendiri, dan mengajak orang untuk berbahasa inggris dengan saya. Selanjutnya mungkin guru bahasa inggris juga akan saya wajibkan untuk berbahasa inggris dengan siapa saja. Orang lain boleh berbahasa indonesia tapi begitu berbicara dengan guru bahasa inggris mereka harus berbahasa inggris paling tidak diawalnya. Misalnya, can i ask ur opinion sir? Can i talk to you a little while? I need to tell you something. Selanjutnya akan menjadi semacam password. Tanpa sapaan awal berbahasa inggris, maka haram jadah para guru bahasa inggris untuk melayani pembicaraan. Wah, saya kejam juga ternyata.

Thursday, April 8, 2010

Catatan Pesisir II

Day 72
(6 April 2010)

“kite runner’

Sebulan pas tidak menulis. Ada banyak hal menarik yang seharusnya bisa ditulis jika dicicil dengan baik. Tapi saya tidak sesetia dan setekun itu. Tidur dan makan selalu lebih menarik saat senggang. Atau luluran. Kurasa saya mulai terserang penyakit bosan yang akut. Baiklah saya akan mulai bercerita tentang obat bosan. Salah satunya adalah novel terlaris dunia, Kite Runner karangan khalid Hosseini. Oleh majalah Time, Hosseini dinobatkan sebagai 100 tokoh paling berpengaruh dunia 2008. Setiap cerita atau kejadian digambarkan dengan detail yang mengesankan. Misalnya ketika Amir (tokoh utama) ikut mengungsi ke Peshawar, ia mendengar orang bercakap-cakap dengan cepat saat berhenti di pos penjagaan. Kalimatnya menjadi seperti ini:

“Dua puluh menit kemudian, kami sampai di pos perbatasan Mahipar. Karim meninggalkan truk, menyapa suara-suara yang mendekat. Kaki-kaki menjejaki aspal. Kata-kata bertukar, dalam bisikan dan ketergesaan.” (page 158)

Ceritanya tentang ketakutan-ketakutan alami yang sering kita rasakan. Ketika kita seharusnya menolong seseorang tapi ternyata hanya berdiri tanpa melakukan apa-apa. Ketika kita merasa harus harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan tapi alih-alih hanya mematung dan menghitung berapa lama lagi siksaan ini bisa berakhir. Mengharukan tapi terkadang juga menggelikan. Saya sampai menangis berkali-kali utamanya ketika penulis menggambarkan tokoh Baba menjelang kematiannya. Saya teringat bapak.

Dia merindukan bercakap-cakap denganku. Saya pun sudah cukup lama mencarinya. Belakangan saya tahu ibu bapaknya berpisah di ujung usia. Mungkin dia berpikir saat ini kami senasib dan boleh bertukar fikiran. Saya pun merindukanmu kawan. Kalau kau di sini saya yakin kita bisa bercerita sampai pagi seperti yang pernah kita lakukan di lapangan basket kampus. Ada pasir putih dan bentangan laut yang bisa menjadi beranda untuk kita bercerita sepanjang waktu. Di tunggu selalu.